Diberdayakan oleh Blogger.
Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan

Telaah Keberadaan Tuhan (Part II)

Sumber: www.anneahira.com
Dengan menggunakan empiris dan rasional eksistensi Tuhan selanjutnya bisa ditemukan. Sebelum menganalisa eksistensi Tuhan dengan dua metode ini ada baiknya perlu diketahui apa itu empiris dan rasio.

Empiris dan rasional merupakan bagian dari filsafat dan disebut-sebut sebagai bagian dari epistimologi (cara mendapatkan pengetahuan) filsafat. Fiilsafat Barat ataupun filsafat Islam sama-sama mengakui bahwa empiri dan rasional adalah elemen penting dalam epistimologi.

Empiris adalah suatu sember pengetahuan yang berasal dari penilitian manusia dengan menggunakan panca indera sebagi sumber utama. Contohnya seperti ini, setelah diteliti gempa terjadi karena adanya gesekan lempeng bumi, bukan karena adanya telinga lembu yang kemasukan lalat kemudian ia mengibas-ngibaskan kepalanya, sehingga bumi yang ia topang dengan tanduknya ikut terguncang karena kibasan kepalanya.

Rasional adalah sumber pengetahuan terletak pada akal. Jika akal bisa mencerna dan menganalisa sesuatu, maka bisa dikatakan sesuatu itu merupakan pengetahuan. 

1. Empiris.

Sudah disebutkan di part 1 bahwa untuk saat ini keberadaan Tuhan tidak bisa diindera karena sudah menjadi hukum alam dan sunatullah. Namun, manusia bisa menggunakan teknik empirisme untuk membuktikan keberaan Tuhan dengan meneliti ciptaan-ciptaan Tuhan. Seperti struktur burung yang mempunyai rongga dan penopang di tulangnya menandakan keberadaan Tuhan yang menciptakan burung itu.

Manusia memang tidak bisa mengindera Tuhan, namun mengindera Tuhan bisa lewat ciptaannya.

2. Rasional

Untuk membuktikan keberadaan Tuhan secara rasional adalah dengan menggunakan rasional. Manusia harus memikirkan Tuhan itu ada. Untuk membuktikan Tuhan secara rasional maka coba menganalisa contoh di bawah ini.

Priseden Indonesia yang ketujuh adalah seorang anak manusia yang hidup di tahun ini (2015). Bagaimana jadinya, jika kakek presiden yang ke-12 tidak pernah ada? Maka presiden pun tidak ada. Karena presiden Indonesia yang ketujuh itu ada, itu berarti kakek presiden yang ke-12 itu pasti ada.

Begitu juga dengan alam jagad raya ini. Tidak mungkin, dengan susunannya yang apik, tidak diciptakan. Ada kekuatan yang maha dahsyat, maha sempurna dibalik keserasian alam ini. Harun Yahya dengan jeli menjelaskan keberadaan Tuhan melalui rasional dengan berdasarkan fakta empiris.

So, sekarang tinggal manusia yang tidak percaya dengan keberadaan Tuhan. Apakah Tuhan benar-benar sudah dicari?

Wallahu A'lam.

Telaah Keberadaan Tuhan (Part I)

Keberadaan Tuhan saat ini memang tidak bisa diindera, namun bukan berarti Tuhan itu misterius dan bukan pula tidak ada. Dalam Islam, keberadaan Tuhan bisa diindera jika seorang hamba menjadi kewarganegaraan surga. Ia tetap ada dan akan selalu ada mengawasi dan memperhatikan hamba-hambanya. Tuhan berada di dalam hati hamba-hamba yang meyakini keberadaan-Nya. Namun, sering kali manusia salah kaprah tentang Tuhan. Tuhan dimunculkan dengan bentuk perwakilan di muka bumi. Inilah akibat dari hasil imajiner yang tidak dipandu.

Ada banyak perwakilan Tuhan di dunia ini. Dan bentuknya yang bermacam-macam menandakan keragaman kesadaran manusia akan kehadiran-Nya. Sebut saja berhala-berhala di zaman jahiliyah, mereka mengasumsikan bahwa berhala sebagai penghubungan antara mereka dengan Tuhan. Adapula yang lebih kreatif, yaitu dengan mengasumsikan sesosok manusia merupakan jelmaan dari Tuhan. 

Untuk yang terakhir ini, sebenarnya, banyak sekali celah untuk mementahkan konsep ketuhanannya. Seperti, berdasarkan keyakinan mereka Tuhan menjelma sebagai manusia. Secara logika kalau Tuhan menjelma sebagai manusia otomatis segala organ, anatomi, dan fisik lainya serupa dengan manusia. Misalkan, manusia punya hidung, telinga, mata, mulut, ketiak, alat kelamin, alat buang, perut dll, nah Tuhan yang menjelma sebagai manusia juga punya organ-organ seperti itu. Namun yang menjadi permasalahnnya adalah apakah mungkin Tuhan itu punya ingus dikarenakan ia punya hidung, apakah mungkin tiap pagi Tuhan membutuhkan toilet untuk membuang air seni dan kotoran di dalam perutnya?

Oleh karena itulah, imajinasi manusia tentang Tuhan itu sangatlah liar, jika tidak dibimbing oleh Tuhan sendiri. Untuk membimbing manusia tentang keberadaan-Nya, maka Tuhan perlu menegaskan keberadaan-Nya, pengakuan-Nya, sifat-sifat-Nya di dalam wahyu yang diturunkan kepada Nabi melalui malaikat Jibril as.

Tentang keberadaan-Nya, Tuhan menyebutkan di dalam wahyun-Nya Al-Mulk ayat 16.

ءَاَمِنْتُمْ مَّنْ فِى السَّمَآءِ اَنْ يَخْسِفَ بِكُمُ الْاَرْضَ فَاِذَا هِيَ تَمُوْرُ

“Apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang di atas langit bahwa Dia akan menjungkir balikkan bumi bersama kamu, sehingga dengan tiba-tiba bumi itu bergoncang?” 

Tentang pengakuannya sebagai Tuhan. Disebutkan-Nya di dalam Yunus ayat 3


"Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah Yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas 'Arsy untuk mengatur segala urusan. Tiada seorangpun yang akan memberi syafa'at kecuali sesudah ada izin-Nya. yang demikian itulah Allah, Tuhan kamu, maka sembahlah Dia. Maka apakah kamu tidak mengambil pelajaran?"

Kemudian Thaha ayat 14


"Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku."
Sedangkan tentang sifat wujud-Nya, ada di dalam surat As-syuraa ayat 11.


"(Dia) Pencipta langit dan bumi. Dia menjadikan bagi kamu dari jenis kamu sendiri pasangan-pasangan dan dari jenis binatang ternak pasangan-pasangan (pula), dijadikan-Nya kamu berkembang biak dengan jalan itu. Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dialah yang Maha Mendengar dan Melihat"


Dengan adanya panduan atau petunjuk Tuhan tenang diri-Nya sendiri, maka manusia tidak perlu lagi berspekulasi tentang bagaimana bentuk dan keberadaan Tuhan. Karena ia tidaklah sama dengan sesuatu apapun di muka bumi ini.

Menggugat kata اله yang disandingkan untuk tuhan palsu.

Sebenarnya pandangan ini adalah pandangan pribadi saya, yang pada hakikatnya bisa benar bisa saja salah (dan saya meyakini ada manusia sholeh di sebelah sana yang sudah memikirkan hal ini terlebih dahulu). Anda secara pribadi boleh menyetujuinya dan sangat boleh untuk menolak, sebagaimana yang dikatakan oleh seorang alim lagi sholeh, "Semua perkataan manusia boleh diambil dan boleh juga ditolak, kecuali perkataan Nabi."

Sumber Gambar: heaval.blogspot.com
Permasalahan yang saya gugat adalah seringnya saya menemui kalimat اله (Tuhan) digenaralisirkan secara makna, tanpa melihat kepada apa dan siapa kata اله disematkan. 

Kalau kata اله yang disematkan kepada Allah SWT, tentu makna ini sangat pas sekali dan tidak ada ruang atau celah untuk menggugatnya, karena Allah SWT adalah beanr-benar Tuhan. Namun, jika kata اله disandingkan kepada selain Allah SWT tentu menjadi pantas dan layak untuk digugat. Seperti penyandingan اله pada berhala, Yesus Kristus, Budha Gautama dll.

Pasalnya, entah kenapa saya agak kurang sreg dengan makna اله diartikan sebagai Tuhan jika diperuntukkan bagi sesembahan selain Allah. Alasannya begini.

  1. Di dalam bahasa Indonesia kata اله diartikan dua macam, bisa Tuhan dan bisa sesembahan.
  2. Pada dasarnya, dalam perspektif yang menyembah, antara Allah SWT dan berhala dll adalah sesembahan.
  3. Namun, sesembahan lain membutuhkan makhluk yang menyembah dan meyakininya agar bisa menjadi Tuhan.
  4. Hal ini berbeda dengan Allah SWT (yang pada dasarnya adalah Tuhan asli), yang tidak butuh makhluk untuk meyakini dan menyembah-Nya. 
  5. Karena meyakini ataupun tidak akan ketuhanan Allah SWT, tak berpengaruh pada-Nya. Dia tetaplah Tuhan walaupun tanpa pengakuan dan sembah dari makhluk-Nya.
  6. Sebagai Muslim, kita sudah menegasikan ketuhanan lain dan mengakui bahwa hanya ada satu Tuhan dalam syahadat atau kalimat tahlil, yaitu Allah SWT. 
Nah dari enam alasan ini, saya berfikir bahwa makna Tuhan untuk اله bagi sesembahan lain adalah tidak tepat. Karena Allah SWT (Tuhan) sudah pasti sesembahan, namun tidak semua sesembahan itu Tuhan. Bisa jadi ia tuhan-tuhanan.

Wallahu A'lam bishawab. 

Terjebak Dalam Pikiran "Tidak Mau Merepotkan Orang Lain."

Tulisan ini terinspirasi dari obrolan via ponsel antara saya dan adik kelas.

Sejatinya, tidak menyusahkan orang lain adalah sebuah sikap atau perbuatan yang baik, karena perbuatan tersebut dinilai dewasa dan mandiri. Akan tetapi,
Sumber Gambar: www.upblackberry.com
ada suatu masa di mana sikap tersebut tidak selamanya berbuah manis. Terdapat kondisi tertentu yang justru merugikan diri sendiri.

Ia menceritakan tentang kehidupan yang penuh perjuangan di Malaysia. Selain kuliah S2 (tanpa beasiswa), ia harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Semua pekerjaan, agaknya, sudah dikerjakan, mulai dari menjadi satpam, hingga pelayan restoran. 

Terkadang ia menunggak pembayaran uang kuliah, hingga beberapa kali mendapat teguran dari universitas. Sampai akhirnya, datanglah suatu kondisi yang membuatnya benar-benar kesusahan, diakibatkan oleh faktor keuangan mulai menipis dan visa yang bermasalah. Hatta sampailah ia pada sebuah kesimpulan yang ekstrim, yaitu berhenti kuliah dan segera keluar dari Malaysia.
 
Sangat disayangkan, menurut saya, ia punya 'ideologi' yang cenderung kaku dan sudah tertancap kuat di dalam dirinya, bahwa ia tidak mau merepotkan orang lain. Padahal, ada banyak orang yang mau membantunya dari segi finansial atau yang lainnya. Hal ini terbukti ketika ia sudah berada di Indonesia, sahabatnya menelpon dan menyesalkan sikapnya yang tidak mau berbagi masalah.

Singkat cerita, ia berhikmah kepada saya, bahwa terkadang kita mudah sekali terjebak dalam pikiran tidak mau merepotkan orang lain. Hal ini, mungkin, disebabkan karena gengsi kita yang salah tempat. Ibarat renang, kita tetap keukeh dan yakin dengan pandaianya kita berenang walaupun perut sudah penuh dengan air karena tenggelam. Padahal sebagai makhluk sosial justru manusia membutuhkan manusia lain, butuh orang untuk mengatasi masalah orang.

Di dalam Islam pun sangat ditekankan untuk saling tolong menolong. Bahkan, ada banyak ajaran di dalam Islam yang membenarkan meminta bantuan kepada orang lain, seperti pinjam meminjam, gadai, mudharabah, dan lain-lain.

Terakhir. Sangat bagus punya 'ideologi' tidak mau merepotkan orang lain, namun yang lebih bagus lagi pandai dan lihai menempatkannya.

Wallahu A'lam bishawab.

Menjawab Pertanyaan "Bisakah Tuhan Menciptakan Makhluk yang Lebih Berkuasa Dari-Nya?"

Sumber gambar: jmvfkhua.wordpress.com
"Bisakah Tuhan menciptakan makhluk yang lebih berkuasa dari diri-Nya sendiri?"

Pertanyaan ini sebenarnya adalah pertanyaan menjebak. Sebab kalau dijawab dengan tergesa-gesa maka akan kecolongan. Andaikan saja jawabannya adalah bisa. Maka kalau Tuhan bisa menciptakan makhluk yang lebih berkuasa dari diri-Nya sendiri, itu berarti Tuhan bukanlah Yang Maha Kuasa, karena posisi Yang Maha Kuasa sudah berpindah dari-Nya kepada makhluk-Nya. Begitu pula dengan jawaban tidak bisa, itu artinya Tuhan bukan pula Yang Maha Kuasa, karena Ia tidak bisa menciptakan yang lebih berkuasa dari diri-Nya.

Menjebak bukan? Oleh karena itu, hendaklah berhati-hati dalam menjawab pertanyaan ini. Pertanyaan ini harus dijawab dengan seksama, dengan perenungan yang lebih dalam. 

Ok, mari kita bongkar pertanyaan ini. Ada empat poin yang harus diperhatikan di bawah ini, yaitu:
  1. Pertanyaan ini seharusnya tidak ada atau tidak ditanya, kecuali kalau si penanya hendak menguji sejauh mana kecerdasan orang yang ditanya. Kenapa pertanyaan ini seharusnya tidak ditanya? Karena sebagai manusia yang beragama seharusnya mempunyai  keyakinan dan kepercayaan penuh bahwa Tuhan lah Yang Maha Kuasa tanpa ada satu tandinganpun. 
  2. Ada sifat-sifat Tuhan yang mustahil bagi diri-Nya. Kenapa ada sifat mustahil bagi diri Tuhan, karena kalau tidak ada sifat mustahil bagi diri Tuhan berarti ia bukanlah Tuhan. Contohnya seperti ini, mustahil bagi Tuhan itu punya anak, mustahil bagi diri-Nya menyerupai makhluk-Nya. Dan begitu juga bagi Tuhan, mustahil bagi diri-Nya untuk tidak Yang Maha Kuasa (YMK). Karena posisi YMK cuma ada satu, dan posisi itu tidak memungkinkan diisi oleh yang lainnya.
  3. Tuhan adalah Yang Maha Pencipta. Seluruh alam Dia lah yang menciptakannya. Ia juga yang menciptakan gempa bumi, tsunami, badai, topan, petir yang memekakkan telinga, banjir yang menakutkan, Izrail sang pencabut nyawa. Membayangkan ( yang disebutkan tadi) saja sudah sangat mengerikan, lantas kenapa harus ada ruang di dalam benak manusia sebuah pertanyaan, "bisa gak Tuhan menciptakan makhluk yang lebih berkuasa dari pada diri-Nya?."
  4. Tuhan Maha Pencipta dan Dia lah satu-satunya Yang Maha Kuasa. Sudah banyak dalil yang menyebutkan tentang Kemahakuasaan Tuhan dan Kemaha penciptaan. Namun, menciptakan makhluk yang lebih berkuasa dari diri-Nya itu mustahil, karena melanggar poin yang nomor 2 tadi.
Wallahu A'lam.

Penetrasi Ideologi


BAB I
PENDAHULUAN
            Setiap idiologi membutuhkan generasi untuk memelihara keberadaannya agar tetap eksis di dunia. Ada beberapa cara yang dilakukan oleh penganut  idiologi untuk memburu para penerusnya, baik dengan menyebarkan faham berupa menerbitkan buku-buku atau dengan merekrut para pemuda-pemuda yang diharap bisa dan mampu untuk meneruskan idiologinya.
Salah satu lahan basah untuk mencari penerus penganut paham sebuah idiologi ialah dengan merekrut pemuda-pemuda yang berada di kampus. Tentu hal ini disadari oleh para-para fungsionaris penganut paham idiologi. Karena itulah banyak kita temukan berbagai macam idiologi di universitas. Biasanya para penganut idiologi menyasar mahasiswa-mahasiswa baru yang belum muncul timbul sikap kritisnya. Akan tetapi, tidak semua idiologi itu baik untuk dijadikan pedoman, mahasiswa harus mampu memilih dan memilah idiologi.
Kemampuan mahasiswa untuk menyeleksi sebuah paham seyogyanya disandingkan dengan pengetahuan tentang bagaimana mencegah paham-paham yang tidak baik.
Sebuah paham keliru yang tersebar di dunia kampus ialah pemahaman tentang Islam tidak syumul atau Islam itu tidak lengkap. Islam hanya sebatas masalah ibadah mahdhah saja. Tidak ada konsep ekonomi di dalam Islam, tidak ada sistem politik, sistem peradilan dan sebagainya. Sehingga dengan adanya pendangkalan pemahaman tentang Islam ini para orientalis, penjajah dan barat dengan leluasa menyusupkan idiologinya ke dalam memori umat Islam.
Pemahaman yang keliru terhadap Islam tak ubahnya virus yang bisa menggrogoti pemahaman dan keyakinan seseorang terhadap Islam. Sebagai pengidap virus liberal, seorang dosen lazimnya juga menyebarkan visrusnya kepada mahasiswa. Jika mahasiswanya lulus dan tidak sadar dengan virus yang menjangkitinya, dia pun akan menjadi penyebar virus yang baru kepada orang lain. Begitu seterusnya. Siklus penyebaran virus liberal ini akan berkelanjutan dengan dukungan pendanaan yang melimpah dari negara-negara Barat dan media yang luas.[1]
Mereka juga menganggap bahwa penyebab kemunduran Islam pada hari ini ialah akibat kaum Muslimin tidak berani mengaduk-aduk aturan baku yang sudah ada di dalam Islam. Padahal Islam tidak boleh ditafsirkan semaunya dengan mengatasnamakan modernisasi, kebebasan berfikir, apresiasi, dan sejenisnya agar sesuai dengan target dan kepentingan pribadi. Wahyu diturunkan untuk membentuk kehidupan manusia, bukan sebaliknya, wahyu dimodifikasi agar sesuai dengan selera dan kemauan manusia. Manusia harus mendengar apa kata wahyu, bukan wahyu harus mendengar apa maunya manusia.[2] 
Pemahaman ini terjadi karena kekaguman yang berlebihan terhadap kemajuan barat dan realitas kondisi umat Islam saat ini telah menyilaukan banyak cendikiawan untuk mengikuti jalan Barat dalam berbagai bidang kehidupan, termasuk dalam bidang pemikiran keagamaan.[3] Padahal kemajuan barat merupakan ‘buah’ dari pergesekan antara peradaban barat dan Islam. Ketika perang Salib usai mereka banyak membawa peradaban Islam menuju rumah mereka, seperti teknologi tekstil dan pewarnaannya.
 Usaha-usaha untuk menyebarkan paham-paham keliru juga dilakukan dengan mencoba mempelajari Islam dengan pengembangan studi Islam yang berbasis pada kesejarahan. Secara sadar atau tidak pengembangan studi Islam yang berbasis pada kesejarahan telah mengubah corak dan arah studi Islam di Indonesia saat ini. Studi Islam tidak diarahkan untuk menghasilkan sarjana yang meyakini kebenaran agamanya, tetapi justru didorong untuk menghilangkan klaim kebenaran pada agamanya sendiri. Caranya, kadang dilakukan dengan mengobrak-abrik makna istilah-istilah pokok dalam Islam, seperti makna Islam, iman, kafir dan seterusnya.[4]
Dalam pandangan sekuler, Islam harus mengikuti perkembangan manusia. Dalam arti, ajaran-ajaran yang mereka anggap tidak sesuai lagi dan tidak dapat diterapkan di era globalisasi ini, konsekuensinya harus dihilangkan kendatipun itu kewajiban mutlak yang universal. Mereka melakukan (reinterpretasi) terhadap ketentuan Islam agar lebih bisa diterima dan tidak dianggap berseberangan dengan kemauan masyarakat modern. [5]
Akhir-akhir ini kerap terdengar seruan perlunya penafsiran ulang alias reinterpretasi Al-Qur’an dan ajaran Islam. Alasan yang sering dikemukakan antara lain karena kitab suci ini dikatakan merupakan refleksi dari dan reaksi terhadap kondisi sosial, budaya, ekonomi, dan politik pada zaman Arab Jahiliyah abad ke-7 Masehi yang primitif dan patriarkis. Karena itu ayat-ayat Al-Qur’an yang terkesan ‘menindas’ wanita, seperti memberbolehkan poligami, menekankan superioritas suami, mengatur pembagian warisan, ataupun yang terkesan tidak manusiawi (barbaric), seperti ayat-ayat jihad/ qital dan hukum pidana (hudud), seperti soal potong tangan, qishah, dan rajam, semua ini perlu ditinjau dan ditafsirkan kembali agar sesuai dengan prinsip-prinsip hak asasi manusia (HAM) dan nilai-nilai demokrasi, perlu direinterpretasikan agar sesuai dengan denyut nadi peradaban manusia modern yang sedang dan terus berubah.[6]
Pandangan-pandangan yang keliru tentang Islam oleh para cendikiawan sekuler Barat yang mengarah pada kehancuran manusia. Menurut Prof. Syed Muhammad Naquib Al-Attas, yang dikutip oleh DR. Adian Husaini, mengatakan bahwa bagi cendikiawan sekuler Barat, kebenaran fundamental dari agama dipandang sekedar teoritis. Kebenaran absolut dinegasikan dan nilai-nilai relatif dierima. Tidak ada satu kepastian. Konsekuensinya, adalah penegasian Tuhan dan  akhirat dan menempatkan manusia sebagai satu-satunya yang berhak mengatur dunia. Manusia akhirnya dituhankan dan Tuhan dimanusiakan. Berbagai problem kemanusiaan muncul sebagai hasil dari kacaunya nilai-nilai.[7]
Adnin Arnas, M.A. mengatakan tentang paham-paham keliru dan ketidakjelasan para aktivis liberalisme Islam. Beberapa diantaranya bersifat spekulatif dan eksperimental. Jika disimak makna liberal itu sendiri tidak jelas. Akibat kaburnya batasan itu adalah timbulnya ide tak terbatas. Hasilnya gagasan liberalisasi Islam tanpa konsep yang jelas dapat berujung pada gagasan Islam liar yang menggunakan jargon kebebasan.[8]
Secara sadar atau tidak pemuda-pemuda Islam mulai dijangkiti virus-virus jahat pandangan berupa anggapan bahwa belajar Islam serta mengikuti aturan-aturannya hanya berakhir pada profesi mengurus mushola. Padahal ilmuan-ilmuan zaman terdahulu justru menjunjung tinggi kepribadian Islam dan mereka belajar Islam jauh sebelum mereka belajar Ilmu-Ilmu yang lain.  









BAB II
PEMBAHASAN
            Ghazwul fikri atau perang pemikiran telah dilakukan oleh para orientalis Barat sejak berabad-abad yang lalu sebagai bagian dari perang salib dan kolonialisasi yang mereka lakukan di negeri-negeri timur dan Islam. Tujuan dari perang pemikiran mereka lakukan adalah unuk melemahkan kaum Muslimin dari dalam. Bentuknya berupa pendangkalan aqidah, memperlemah ghirah, dan kecintaan umat Islam terhadap agamanya. Mereka juga menjauhkan kaum Muslimin dengan Al-Qur’an sebagai pedoman. Dengan lemahnya umat Islam, mereka mudah memecah belah dan mengusai semua segi kehidupan Umat Islam.
            Pendangkalan-pendangkalan pemahaman terhadap ajaran Islam merupakan pekerjaan besar para orientalis. Kalau dahulu pendengkalan dilakukan oleh para orientalis langsung melalui tangan para penjajah. Sekarang para orientalis tidak perlu untuk terjun langsung, mereka merasa cukup untuk mencetak generasi-generasi mereka yang berasal dari ‘darah daging’ kaum Muslimi sendiri. Para generasi ini menusuk langsung jantung kaum Muslimin.
            DR. Adian Husaini memberi analogi tentang pemahaman yang salah tentang Islam, yaitu ibarat virus yang berkembang biak, membajak, dan merusak sel-sel tubuh. Virus bisa dijinakkan dengan metode tertentu sehingga bisa disuntikkan kembali ke dalam tubuh untuk merangsang tumbuhnya anti bodi di dalam tubuhnya.
            Di era di mana virus-virus pemikiran bergentayangan secara bebas di berbagai arena kehidupan, termasuk di perguruan tinggi Islam, maka cara terbaik ialah dengan mengenali virus pemikiran untuk kemudian dijinakkan. Sebab, memang tidak mudah lari dari serangan virus.[9]
            Islam tidak membatasi dan tidak melarang penganutnya untuk menerima konsep-konsep dari luar, selama konsep itu tidak bersinggungan dengan aturan baku Islam. oleh karena itu sikap simpatik para orientalis tidak serta merta menjadikan pemikiran mereka menjadi benar. Adian Husaini memberikan analisa gamblang tentang asumsi dan juga konsekuensi dari framework diatas adalah pengingkaran terhadap tradisi intelektual Islam yang berbasis pada wahyu. Akan tetapi, sumber ilmu keislaman yang bersifat mutawatir tidak diakui oleh mereka sebagai sumber valid. Mereka tidak menghubugkan kajian mereka tentang Islam yang spesifik dengan prinsip yang umum dan universal. Kajian mereka tentang hal-hal yang spesifik seperti tentang sejarah Al-Qur’an, etika dalam Islam, dan lain-lain tidak dikaitkan dengan makna Islam sebagai suatu agama dan pandangan hidup yang memiliki prinsip dan tradisinya sendiri.[10]
            Islam tidak juga mengekang penganutnya dari pengaruh luar. Islam adalah agama dan pandangan hidup yang telah melahirkan peradaban yang gemilang. Akan tetapi untuk mempertahankan dan mengembangkan peradaban Islam tidak berarti menolak mentah-mentah masuknya unsur-unsur peradaban asing. Sebaliknya untuk bersikap adil terhadap peradaban lain tidak berarti bersikap permisif terhadap masuknya segala macam unsur dari peradaban lain tanpa proses adaptasi.[11]
            Peradaban Islam yang gemilang padang abad terdahulu oleh orang masa sekarang banyak dijadikan sebagai bahan untuk bernostalgia oleh umat Islam pada hari ini. Tanpa merinci bagaimana umat Islam terdahulu mampu mencapai masa kegemilangan mereka. Sejarah kegemilangan Islam diajdikan bahan contoh jika ada pihak lain meminta bukti akan kejayaan, toleransi Islam.
            Selain itu, menjadi sebuah keharusan untuk berhati-hati atas opini-opini yang disebar oleh orang-orang sekuler tidak boleh ditelan langsung, harus difilter terlebih dahulu. Artinya, jangan mudah percaya begitu saja dengan opini-opini yang disampaikan oleh kaum-kaum sekuler. Surat Al-Hujarat ayat 6 dengan tegas memberikan pedoman bagaimana menangggapi opini-opini yang disebar oleh orang fasik.
            “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa berita, periksalah dengan teliti (tabayyun) agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (Al-Hujarat: 6).   
            Siapakah yang dimaksud dengan fasik oleh ayat diatas. Kata fasik berasal kata al-fisq yang berarti keluar. Para ulama mendefinisikan fasik sebagai orang yang durhaka kepada Allah SWT karena meninggakan peintah-Nya atau melanggar ketentuan-Nya. Tidak mudah begitu mudah menentukan batasan yang tegas apakah seseorang masuk kategori fasik. Di dalam Al-Qur’an kata fasik muncul dalam berbagai konteks. Terkadang, kata fasik dihubungkan langsung dengan kekafiran dan kedurhkaan (Al-Hujarat: 7) dan terkadang dihubungkan dengan kebohongan dan percekcokan (Al-Baqarah: 197).  
                           


BAB III
PENUTUP

  1. Pemahaman terhap Islam harus komprehensif tidak bisa hanya dengan mengandalkan perasaan dalam memahami Islam. Sebab Islam mempunyai aturan-aturan baku yang bersumber dari Al-Qur’an dan Al-Hadits.
  2. Seorang pendeta Kristen asal Irak mengumumkan bahwa sudah saatnya sekarang untuk melakukan studi kritis terhadap teks Al-Qur’an sebagaimana yang telah mereka lakukan terhadap kitab suci Yahudi yang berbahasa Ibrani-Arami dan kitab suci Kristen yang berbahasa Yunani. Seruan semacam ini dilatarbelakangi oleh kekecewaan sarjana Kristen dan Yahudi terhadap kitab suci mereka dan juga disebabkan oleh kecemburuan mereka terhadap umat Islam dan kitab suci Al-Qur’an.
  3. Pandangan-pandangan yang keliru terhadap Islam adalah buah dari virus-virus yang masuk ke dalam tubuh umat Islam secara tidak sadar. Seorang pengajar yang tidak sadar terjangkiti virus akan menularkan kepada anak didiknya.
  4. Dalam sejarah, Rasulullah tidak menutup diri bagi konsep dari luar. Terbukti dengan keterbukaan Rasulullah menerima usulan dari sahabat Salman Al-Farisi dalam membuat parit guna sebagai strategi melawan musuh-musuh Islam.
  5. Menurut para ulama orang fasik dilarang memegang suatu amanah atau jabatan yang berhubungan dengan kepercayaan. Al-Qur’an sudah memberi garis yang tegas: jika orang fasik membawa berita, telitilah berita yang dibawanya tersebut dan jangan mudah percaya begitu saja kepada informasi yang disampaikan oleh orang fasik.











DAFTAR PUSTAKA
Arif, Syamsuddin. 2008. Orientalis dan Diabolisme Pemikiran. Jakarta: Gema Insani.
Armas, Adnin. 2003. Pengaruh Kristen Orientalis Terhadap Islam Liberal. Jakarta: Gema                Insani
Husaini, Adian. 2005. Wajah Peradaban Barat Dari Hegemoni Kristen ke Dominasi Sekular-              Libera. Jakarta: Gema Insani
Husaini, Adian. 2009. Virus Liberalisme di Perguruan Tinggi Islam. Jakarta: Gema Insani.
Husaini, Adian. 2002. Penyesatan Opini. Jakarta: Gema Insani.





[1] . Adian Husaini, Virus Liberalisme di Perguruan Tinggi Islam, (Depok: Gema Insani, 2009), h. 17.
[2] . Adian Husaini, Penyesatan Opini, (Jakarta: Gema Insani Press, 2002), h. ix.
[3] . Op Cit. h. 18
[4] . Ibid, h. 18
[5] . Op Cit, Adian Husaini, Penyesatan Opini, h. ix
[6] . Syamsuddin Arif, Orientalis dan Diabolisme Pemikiran, (Jakarta: Gema Insani, 2008), h. 148.
[7] . Adian Husaini, Wajah Peradaban Barat Dari Hegemoni Kristen ke Dominasi Sekular-Liberal, (Jakarta: Gema Insani, 2005), h. 3
[8] . Adnin Armas, Pengaruh Kristen-Orientalis Terhadap Islam Liberal, (Jakarta Gema Insani, 2003), h. xiv
[9] . Adian Husaini, Virus Liberalisme di Perguruan Tinggi Islam, (Jakarta: Gema Insani, 2009), h. 23
[10] . Adian Husaini, Wajah Peradaban Barat, Op Cit, h. xxxii
[11] . Ibid, h. xxxiii

Antara Nama dan Substansi, Mana yang Harus didahulukan?

 
Antara nama dan substansi, kira-kira mana satu yang harus dipilih?

Ada banyak sikap terhadap dua persoalan ini, apakah memilih substansi atau nomenklatur (nama). Karena masing-masing mempunyai alasan, yang alasan ini berasal dari penalaran mereka akan akibat yang timbul. 

Ada sekelompok orang yang lebih mementingkan atau alergi dengan penamaan, tanpa mempedulikan apakah substansinya berguna bagi mereka atau tidak. Di lain sisi ada pula jenis orang yang tidak terlalu memusingkan nama, bagi mereka yang penting adalah substansi. Namun di pihak lain, ada pandangan ideal, berupa nama dan substansi itu penting, harus ada ke dua-duanya.

Kalau anda pilih yang mana?

Kalau saya pribadi punya pilihan dan pilihan saya tergantung keadaan. Memang alasan ini standar, namun akan lebih baik anda memperhatikan alasan dan pertimbangan saya, mana tau di antara alasan dan pertimbangan saya menjadi masukan buat anda, sehingga bisa menambah hujah dan referensi bagi anda. 

Untuk lebih mudah saya bagi ke dalam tiga poin.

  • Pertama, penamaan atau nama itu bisa menjadi penting. Karena pada dasarnya penamaan, yang dalam bahasa al-Attas disebut dengan istilah, bukanlah perkara sepele dalam dunia ilmu pengetahuan. Istilah itu bisa mempengaruhi implementasi dan aplikasi. Saya sebutkan contohnya. Dalam hukum Islam dikenal dengan potong tangan, yaitu potong tangan bagi seorang yang mencuri (dalam batas/ kadar tertentu). Kalimat potong tangan ini memberikan batasan dan penolakan terhadap tafsiran-tafsiran lain. Kalau sudah potong tangan  itu berarti yang dipotong adalah tangan, bukan jari, bukan pula telinga. 
  • Kedua, Substansi. Kalau melihat secara sepintas, substansi lebih penting dari pada penamaan (istilah/ nama). Orang sering bilang, "Jangan meributkan nama, yang penting itu substansi," pernah juga seperti ini, "apalah arti sebuah nama." Benar, substansi itu lebih penting dari pada nama, namun perlu diketahui bahwa nama memberikan batasan dalam pelaksanaan substansi tersebut. 
  • Ketiga, nama dan substansi. Inilah pandangan ideal yang akan tetap menjadi mimpi kalau tanpa perjuangan. Substansi itu ibarat eksekutor dan nama ibarat undang-undang. Kalau tanpa undang-undang, substansi bisa liar tanpa batas, kalau nama tanpa substansi adalah perbuatan yang remeh temeh.